"Barangsiapa meninggal dunia sedangkan warisannya CATATAN dan TINTA, dia dijamin masuk surga."
(HR Dailami dalam "Irsyad al-Qulub")
• Warisan terbaik adalah "harta peninggalan terbaik" yang akan memancarkan cahayanya tanpa putus. Warisan itu adalah CATATAN (mencakup buku karangan, lukisan, dan aneka sarana informasi ilmu pengetahuan yang dicatat di media) dan TINTA (dengan benda-benda equalivalensinya seperti cat air dan cat minyak). Besaran pahalanya diukur dari bobot "tinta yang dicipratkan" seperti statemen Nabi saِw:
يؤتَى بِمدادِطالبِ العلمِ ودَمِ الشهداءِ يومَ القيامةِ فيوضعُ أحدُهمافى كفّةِ الميزانِ والآخرَ فى الكفّةِ الأخرى فلا يَرجِحُ أحدُهماعلى الآخر.
"Pada hari Kiamat tinta penuntut ilmu dan darah syuhada dihadirkan, lalu salahsatunya diletakkan di neraca timbangan dan yang satunya lagi di neraca yang lain. Ternyata tidak ada salahsatu yang mengungguli yang lain."
Namun, syarat memperoleh keutamaan tersebut adalah apabila teks "yang digoreskan itu adalah catatan YANG BAIK-BAIK" bukan goresan buruk dan penuh intrik kejahatan.
------------------
GAMBAR:
Kegiatan TC Kaligrafi Kab. Bulungan, Kaltara (8-11/3/2019) di Tanjung Selor menghadapi MTQ Prov. Kaltara.
BENGKEL KALIGRAFI SABAH YANG MENGGUGAH GAIRAH
(DidinSirojuddinAR•Lemka)
إذافسدت السيارة تحمل إلى الورشة لإصلاحها. ولكن فى سابه ماليزياورشة خاصة لتحسين الخط العربى ورسمه. ✒🔹🔸
BENGKEL KALIGRAFI, ini sungguh sangat menarik. Sebab, BENGKEL (وَرْشَة) di Indonesia artinya "tempat mereparasi atau memperbaiki" kendaraan yang rusak. Seumpama pintu sedan penyok disrempet truk ugal-ugalan, atau motor mogok karena businya kotor atau suaranya rebek menjerit-jerit gara-gara knalpotnya bocor. Semuanya digiring ke BENGKEL untuk direparasi biar kembali kinclong dan tokcer. Ada juga BENGKEL RUHANI untuk nyervice hati yang gundah gulana dan menggosok iman yang mulai awut-awutan. Balik dari bengkel, biasanya pengendara pada tersenyum riang….... 😊😁
Di Membakut, Sabah, Malaysia yang barusan dilaksanakan untuk ke-5 kalinya adalah BENGKEL SENI KHAT ISLAMI SABAH, semacam "work shop", "kursus kilat" atau "pesantren kilat" kaligrafi untuk semua kalangan, tua-muda sampai budak-budak (bocah) Sekolah Rendah. Bengkel Khat adalah pengiring Pertandingan Khat ASEAN Karya Jadi (diikuti lebih 100 peserta yang dimenangkan 3 khattat Malaysia yaitu Abdul Hadi, Ust. Fadhil, dan Zulfikri & 6 khattat Indonesia yaitu Huda Purnawadi, Mohd. Muallimin, Salwa, Ahmad Haidir, Zainuddin, dan Teguh Prastyo) di samping Pertandingan Khat Spontan oleh peserta se jazirah Borneo. Grand acaranya, MAHRAJAN PERSURATAN DAN KESENIAN ISLAM NUSANTARA SABAH yang berlangsung 8-11/3/2018, juga mempertandingkan lomba menulis puisi yang dimenangkan juara-juara dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
BENGKEL KHAT SABAH mendemonstrasikan unjuk kebolehan menulis dan melukis oleh ketiga juri pertandingan khat, yaitu ISEP MISBAH (Indonesia) dengan pertunjukan NASKHInya, ABDUL BAKI BIN ABU BAKAR (Malaysia) dengan kebolehan TSULUSnya. Puncaknya diisi praktikal kebolehan melukis di mozek-keramik oleh DIDIN SIROJUDDIN AR (Indonesia).
Seperti bengkel reparasi motor yang memperbaiki mesinnya yang awut-awutan, Bengkel Khat Sabah mengajarkan cara-cara menulis betul dan indah huruf-huruf tunggal dan cara merakitnya dalam komposisi, proporsi bentuk- bentuknya, sampai hak-hak yang harus dimiliki setiap huruf. Tidak terlewat lho, menunjukkan kesalahan-kesalahan gores yang kadung dilakukan kaligrafer dan bagaimana teknik menyervisnya. Tapi, melukis huruf di media selain kertas seperti MOZEK-KERAMIK, tambah seru saja. "Asyiiiiiiik," komentar bocah di sebelah saya. "Lukisan kaligrafi cukup menjanjikan. Harganya pun mahal, kalau laku," komentar peserta bengkel yang lain.
Melukis kaligrafi memang asyik. Duuuuh asyiknyaaaaaa. Menggugah gairah untuk teruuuuuus menulis dan melukis saban waktu, enggak berhenti-berhenti. 📝 😆
Mutiara Kaligrafi:
GARIS-GORES-BARIS KEHIDUPAN
(DidinSirojuddinAr•Lemka)
كُلَّماخُطُّ سَطْراضاعَ سطرٌمِنْ عُمْرِى
"Setiap kali aku mengGORES sebuah GARIS, hilanglah satu BARIS umurku."
(Sayid Ibrahim, Mesir)
• Umur terdiri dari garis-garis. Ya, garis-garis kehidupan yang berjejal "pandangan" hidup, "pegangan" hidup, dan "perjuangan" hidup. Satu hentakan nafas adalah garis. Aktivitas makan adalah garis. Satu goresan PENA adalah satu BARIS. Hidup kita terdiri dari garis-GARIS PUTIH dan garis-GARIS HITAM.
Saat MENULIS atau MELUKIS, elemen garis menjadi bagian dari sebuah karya seni lantaran "semua gambar dan coret-cotetan dimulai dari TARIKAN GARIS". Garis merupakan kumpulan atau deretan titik-titik, atau penghubung yang paling dekat antara dua titik. 〰▪➖💹 Jenis-jenis garis, di antaranya, adalah garis lurus, vertikal, horizontal, diagonal, melengkung, garis berayun, tebal-tipis, mendekat-menjauh, dan garis putus-putus. 🔸🔹✒
Ah, betapa menariknya kala Nabi SAW juga bicara, menggambarkan unik-unik GARIS ini:
خط لنارسول الله صلى الله عليه وسلم خطّا ثم قال: "هذاسبيل الله" ثم خطّ خطوطاعن يمينه وعن شماله ثم قال: "هذه سُبل" قال يزيد "متفرقة على كل سبيل منها شيطان يدعوإليه" ثم قرأ: "إنّ هذا صراطي مستقيمافاتبعوه ولا تتبعواالسبل فتفرق بكم عن سبيله". (رواه أحمدعن ابن مسعود)
"Rasulullah SAW mengGORES sebuah GARIS lurus bagi kami, lantas bersabda: "Ini adalah JALAN Allah," kemudian beliau mengGORES garis-GARIS lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda: "Ini adalah jalan-jalan (yang berbeda-beda). Pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepada jalan itu." Kemudian beliau membaca: "Inna hadza....." ("Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya"/QS Al-An'am/6: 153).
(HR Ahmad dari Ibnu Mas'ud)
Kita telah berani memilih hidup dengan segala resikonya. Sampai garis-garisnya terpupus bergantikan garis-garis berikutnya. Maka, garis pilihan seharusnyalah GARIS PUTIH yang mulus, saleh, dan menyelamatkan, sebagaimana goresan yang baik akan membawa kebaikan dan goresan buruk berakibat buruk pula.
خ ط --------- 〰▪✒🔸😆••
• GAMBAR AKTIVITA:
Suasana Pelatihan Dewan Hakim MTQ/STQ Kab. Bangka Selatan 2019, (14-16/3/2019), di Grand Marina Hotel, Toboali, Bangsel. Juri2 KALIGRAFI dilatih utk menambah wawasan & akurasi dala m penilaian.
Kaligrafer yang sangat berjasa, dari hasil upaya tokoh inilah tulisan Kitab Suci Al Qur'an menjadi indah dan enak dibaca.
Ibnu Muqlah adalah Ali al-Sadr Muhammmad ibn al-Hasan ibn Abdillahibn Muqlah , yang lebih dikenal dengan Abu Ali atau Ibnu Muqlah , lahir tahun 887 M , meninggal pada 940 M, dan dimakamkan di pemakaman kerajaan ,setelah tiga kali di pindahkan. Ibnu Muqlah artinya "anaksi biji mata " , alias anak kesayangan .IIa adalah wazir ( menteri) unttuk tiga Khalifah Abbasiyyah, yakni Al-Muqtadir, Al-Qahir dan Al-Radhi . Meninnggal pada masa al-Radhi ,di penjara ( karena fitnah masalah keuangan negara ) setelah lidah dan tangannnya dipotong.
Ibnu Muqlah memulai karirnya sebagai pegawai pemungut pajak di provinsi Persia.yang membawanya sukses untuk menduduki kursi tertinggi di istana Baghdad .Ia berkali-kali masuk penjara, sampai suatu saat ia harus membayar tebusan satu juta dirham. Hukuman tidak berhenti disini saja ,karena Ia harus mempertaruhkan tangan kanan dan kirinya .terakhir lidahnya. meski demikian,sebagai kaligrafer Ia tidak pernah berhenti menulis,walaupun hanya dengan ujung tangan kanannya yang telah buntung.
Ibnu Muqlah mendapat bimbingan kaligrafi dari Al-Ahwal al-Muharrir . karena kejeniusannya Ia dikenal sebagai " nabi"nya para kaligrafer atau imam al-Khatthathin (pemimpin para kaligrafer ) .
Keberhasilan ibnu Muqlah adalah mengangkat gaya Naskhi menjadi gaya yang paling populer di pakai, setelah abad sebelumnya didominasi Kufi. Gaya lain yang ditekuninya adalah Tsuluts , yang nantinya banyak berpengaruh pada karya Ibnu Bawwab. sumbangan Muqlah dalam kaligrafi bukan pada penemuan gaya baru tulisan, akan tetapi pada penerapan kaidah--kaidah yang sistematis untuk khat Naskhi , yang berpangkal pada alif.
sistem Ibnu Muqlah berpangkal pada tiga unsur kesatuan baku ,yakni :
(1). titik (yang dibuat dari tarikan diagonal pena)
(2). huruf Alif vertikal.
(3). lingkaran
prinsip-prinsip geometrical ini mendobrak cara penulisan Arab sebelumnya yang cenderung Nisbi. Metode penulisan baru ini.di sebut al-Khat al-Manshubi ( kaligrafi yang "terstandar") .meski Kaidah-kaidah itu tidak terpakai sekaku awal perintisan Ibnu Muqlah .
Perkembangan kaligrafi selanjutnya banyak dipengaruhi oleh kepiawaiannya dalam memperindah tulisan , namun sangat di sayangkan tak satupun karyanya terpelihara hingga kini .Wallahu A'lam.
LahirdiBasrapadatahun 1974,WissamShawkatitubentukempathurufdarialfabetbahasa Arab yang ditulisdipapan tulissekolahyangmulaidiapadasebuahperjalananyangtelahmembentukbaikdi tahun-tahunawaldandewasa.Diamengenangmenemukankedamaiandankesabaranmenulisdanmengulangikaligrafisuratpadaubinberdebutempat penampungandaruratselamapengebomanudaraberatselamaPerangIran-Irakdan,didorongolehorangtua yang mendukung,iamenjadigurusendiri.
Dalambeberapatahun terakhir,Shawkattelahmenjadidikenaluntukgayakaligrafi yang baru,AlWissam,yangreferensisejumlahscripttradisional yang termasukSunbuli,JaliDiwani,TimurKufic,danThuluth,membawamereka bersama-sama dengandesainmodern.
TelahdikatakanbahwaWissamShawkatadalahaturan-breaker.Individuyangsederhana,labelinidimuatbukanlahsesuatu yang dia akanbebasberlakudirinya sendiri,tetapi,Selainitu,ianyamustahiluntukmenyangkalbahwatantangantemayangpernahhadir.Kitalihatbahkandalamcaradiapergitentangmembuatpekerjaanbaru-menggunakanalattradisionaldan bahan-bahanuntukmenghasilkanestetikakontemporer.AdatujuandalampenjajaranmembebaskanmenggunakankertasreedpenadantintatradisionaluntukmenciptakankaryayangmemintakitauntukberpikirlagitentangapakaligrafiArabdandapat–ciri khaspusatCalligraformicdansesuatuyangduduknyamandenganartissepertiShawkat,ruteyangkurangpreskriptifkekaligrafiArabtelahselalumeninggalkandiadi suatu tempatdipinggirantradisi.
Sebelumkaligrafidikanonisasisebagaibentuksekalidianggaprevolusionerdaneksperimental.Prakteksayaadalahsebuahupayauntukmengambilkembaliitudisorientingtempatyang bergoyang-goyangditepidariapa yang dikenaldanapa yang asing.
SayatertarikdengangrafisnilaihurufArabjauhmelampauimaknaharfiahmereka.Sebagaicontoh,tajamekor'memiliki'dapatmemotongdaritubuhmelengkunghurufdanserialdenganpenaatausikatpadasudut yang dikenali.
Dimulaidenganinitubuh yang barubekerja,akutelahmemilihuntukmerujukkepadasayagayadanpendekatansebagaiCalligraform.Inimerujukkepadapenekananpadabentukhuruf,dalamdanluarruangdangrafiskualitas,diselidiki bersama-samadenganbentukyangtepatdarikarakterkaligrafi.
BinQulandar,seorangseniman yang terkenal.Qulandersemulaadalahseorangdesainergrafisdanminiaturartisnamunkemudianiaterkenalsecara globalsebagaikaligrafi
Biografi
Qulandarbin,putraSufibijak,lahir7Maret1980milikLahore,Pakistan,adalahkaligrafiterkemukagenerasimunculsebagaipengaruhdalamgenreseniIslam. MelaluikaruniadiberikankreativitasolehAllahSWTdankemampuannyadibedakan,iatidakhanyamembangkitkanrasaestetikapendengarnyatetapijugagratifieskeyakinanspiritualmerekajuga.Karyakreatifadalahtonggak sejarahdalamgenrekaligrafiyangdianggap sebagai aspekpentingdariseniIslam.
Didin Sirojuddin AR (59) adalah maestro seni kaligrafi Arab di
Indonesia. Melalui lembaga kursus dan pesantren khusus kaligrafi yang
dirintis sejak 30 tahun silam, kaligrafer itu menularkan seni menulis
khat (tulisan) indah Al Quran kepada ribuan murid. Bagi dia, inilah
jalan menebarkan wajah Islam yang ramah dan indah.
OLEH ILHAM KHOIRI
Di rumahnya yang bersahaja di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten,
suatu sore akhir Juni lalu, Didin—begitu sapaan akrabnya—memperagakan
penulisan seni kaligrafi Arab atau khat. Mengenakan baju koko putih,
kopiah hitam, dan sarung, ia duduk santai di belakang kursi kecil di
teras.
Ia ambil pena khusus dari kayu dan dicelupkannya ke dalam tinta
hitam. Tangannya lantas menari di atas kertas putih. Saat menulis,
wajahnya tampak semringah.
Satu per satu, ia torehkan huruf ba-sin-mim membentuk kata bismillah.
Aksara itu meliuk-liuk dengan ujung mim meruncing panjang ke bawah.
Karakter memutar itu juga terlihat pada deretan kata-kata berikutnya
sampai tersusun kalimat lengkap Basmallah (dengan menyebut nama Allah).
”Ini khat Dewani. Dulu banyak dipakai di dewan-dewan atau kantor-kantor pada masa kerajaan Turki Usmani,” katanya.
Sore itu adalah pekan akhir Ramadhan. Didin menggelar buka puasa
bersama untuk para muridnya. Hadir puluhan santri, pengajar, pelatih,
dan peserta lomba kaligrafi pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di
sejumlah daerah. Mereka adalah sebagian dari ribuan murid Didin.
Didin adalah maestro seni kaligrafi Arab di Indonesia yang tekun
menularkan ilmunya sejak 30 tahun silam. Tahun 1985, ia mendirikan
Lembaga Kaligrafi Al Quran (Lemka) di Jakarta. Ini lembaga kursus yang
mengajarkan peserta untuk menguasai beragam gaya kaligrafi, seperti
Dewani, Dewani Jaliy, Naskhi, Tsuluts, Farisi, Riq’ah, dan Kufi.
”Waktu itu, saya langsung terangkan semua gaya kepada
peserta. Tetapi, mereka malah pusing. Kursusnya bubar,” kenangnya.
Mendapat masukan dari sana-sini, ia menyusun metode yang lebih pas,
yaitu pengajaran gaya-gaya pokok kaligrafi secara bertahap.
Kini, Lemka telah menggelar 62 gelombang kursus, masing-masing
diikuti sekitar 100 peserta. Kursus saat ini bertempat di Masjid Assalam
di samping rumah Didin.
Ingin mengembangkan pendidikan lebih intensif, pada 1998 kaligrafer
itu mendirikan Pesantren Kaligrafi Al Quran di Karamat, Kecamatan Gunung
Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Di situ, para santri tak hanya
belajar ilmu agama, tetapi juga digembleng untuk mendalami beragam gaya
khat Arab.
Namun, Didin menghadapi tantangan lebih berat, terutama pendanaan.
”Mula-mula saya curahkan uang sendiri, selain sumbangan dari donatur,
iuran, dan dukungan alumni Lemka. Cari santri juga tak mudah, awalnya
hanya empat orang,” katanya.
Seiring prestasi para santri di ajang lomba kaligrafi MTQ, pamor
pesantren naik. Jumlah santri terus bertambah dan pendanaan kian lancar.
Kini, lembaga ini memiliki fasilitas cukup lengkap, meliputi asrama,
masjid, gedung administrasi, koperasi, warung, perpustakaan, rumah guru,
studio melukis, dan lapangan futsal.
foto: ilham khoiriCorat-coret
Ayah Didin, Abdul Rahman, adalah seorang mantri kesehatan yang
kemudian menjadi Kepala Desa Karang Tawang di Kabupaten Kuningan. Tak
mengikuti jejak sang ayah, Didin kecil malah kepincut melukis. Ia gemar
mencoreti dinding rumah dengan arang.
Hobi itu menjadi-jadi saat Didin mengenal komik. Ia sibuk meniru
gambar-gambar itu dengan peralatan seadanya. Namun, sang ayah ingin
anaknya mendalami ilmu agama. Dikirimlah remaja itu ke Pondok Modern
Gontor Ponorogo, Jawa Timur.
Pesantren tak memupus hasrat Didin melukis. Di sela-sela mendalami
ilmu-ilmu agama Islam, ia melukis. Bahkan, bersama beberapa santri, ia
dirikan Sanggar Pelukis Darussalam (Sakisda). Di sini, ia mulai tertarik
mempelajari seni kaligrafi Arab, yang kebetulan termasuk pelajaran
wajib. ”Saat itu buku-bukunya masih terbatas.”
Lulus dari Gontor pada 1975, Didin mengincar Akademi Seni Rupa
Indonesia (ASRI) di Yogyakarta. Sayang, sang ayah berkeberatan. Pemuda
itu lantas kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sambil kuliah, Didin berguru kepada penulis kaligrafi buku
profesional KH M Abdul Razaq Muhili dan kaligrafer lulusan penulis Al
Quran Pusaka Indonesia, HM Salim Fachry. ”Saya datang, banyak bertanya,
meminta bahan- bahan untuk ditiru.”
Setahun setelah kelar kuliah, pada 1983 Didin ditugaskan mengajar
kaligrafi di IAIN. Ini tugas berat karena referensinya masih langka.
Maka, dosen muda itu pun menyusun naskah mengajar. Naskah itu lantas
disempurnakan menjadi buku, Seni Kaligrafi Islam (terbit 1985).
Karya itu diikuti buku-buku lain. Ada 40-an buku seni kaligrafi karya
Didin, mulai dari sejarah, diktat pelatihan menulis, contoh-contoh
tulisan, kumpulan artikel, hingga terjemahan buku master kaligrafi Timur
Tengah. Semua itu menjadi referensi bagi para peminat seni kaligrafi.
Pengalaman nyambi menjadi wartawan majalah Panji Masyarakat membuat
seniman ini lancar menulis.
Foto: KOMPAS/ILHAM KHOIRI
Islam yang ramah
Sembari mengajar dan menulis buku, Didin terus mengasah kemampuan
menggoreskan khat. Pengetahuan dan kepiawaian membuat ia dipercaya
sebagai Dewan Hakim Seni Kaligrafi dalam MTQ Nasional di Padang,
Sumatera Barat, pada 1983. Pengakuan lebih luas diperoleh saat dia
menjadi Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN pada 1987. Sepuluh tahun
berselang, kaligrafer itu bahkan didaulat menjadi juri sayembara
bergengsi itu.
Pada 1993, Didin memenuhi permintaan sastrawan HB Jassin untuk
menuliskan Al Quran Berwajah Puisi. Ayat-ayat Al Quran ditulis secara
lengkap dan utuh, tetapi dengan tata letak mirip susunan puisi. Proyek
seni ini memicu perdebatan luas, dan kaligrafer itu kian masyhur.
Nama Didin juga beredar di mancanegara. Tahun 2001, ia mewakili
Indonesia dalam The 9th International Exhibition of The Holy Qur’an di
Teheran, Iran. Tahun 2009, dia mengisi pameran dan diskusi seni
kaligrafi Arab di Islamabad dan Lahore, Pakistan.
Sebenarnya apa yang dikejar Didin selama pengembaraannya
dalam seni kaligrafi? ”Kaligrafi itu the art of Islamic art, seninya
seni Islam. Seni ini punya nilai keindahan dan keluhuran karena langsung
terkait penulisan huruf-huruf Al Quran, sumber ajaran Islam.”
Lebih dari itu, melalui seni khat, Islam tampil dengan wajah yang
lebih ramah. Keindahan kaligrafi menerbitkan kesegaran di tengah citra
Islam yang belakangan kerap dikaitkan dengan kekerasan, radikalisme,
bahkan terorisme. ”Seni ini juga bagian dari dakwah Islam, jihad. Bukan
dengan ceramah atau perang, melainkan dengan tulisan indah,” katanya.
Lihat Video Terkait ”Didin Sirojuddin AR: Maestro Seni Kaligrafi” di kompasprint.com/vod/didinsirojuddin
DIDIN SIROJUDDIN AR
♦ Lahir: Kuningan, Jawa Barat, 15 Juli 1957
♦ Istri: Aah Marfu'ah (51)
♦ Anak: Iwan Ridwan Saidi (27)
♦ Pendidikan:
- Pondok Modern Gontor (1969-1975)
- Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta, S-1 (1976-1982) dan S-2 (1997-1999)
- Ilmu Tafsir, Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta, S-3, (2012-2015)
♦ Pekerjaan:
- Pengajar di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1983-sekarang)
♦ Kegiatan: - Mendirikan Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di Jakarta (1985) - Mendirikan Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka di Sukabumi (1998)
♦ Penghargaan: - Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN di Brunei Darussalam (1987)
Aan Sofyan Hidayat lahir di sebuah kampung di Desa
yang kecil dengan suasana pedesaan yang sangat asri, dari pasangan ayah bernama Mustofa dan Ibu bernama Farida..