Tampilkan postingan dengan label Tokoh Kaligrafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Kaligrafi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2019

Warisan Terbaik - Didin Sirojuddin



🔲📚🔹🔸✒ خط📖
Mutiara Kaligrafi:
"WARISAN TERBAIK"
(DidinSirojuddinAr•Lemka)

منْ ماتَ وَمِيْراثُهُ الدَّفاتِرُ والمَحابِرُ فلهُ الجَنَّةُ.

       "Barangsiapa meninggal dunia sedangkan warisannya CATATAN dan TINTA, dia dijamin masuk surga."
(HR Dailami dalam "Irsyad al-Qulub")

         • Warisan terbaik adalah "harta peninggalan terbaik" yang akan memancarkan cahayanya tanpa putus. Warisan itu adalah CATATAN (mencakup buku karangan, lukisan, dan aneka sarana informasi ilmu pengetahuan yang dicatat di media) dan TINTA (dengan benda-benda equalivalensinya seperti cat air dan cat minyak). Besaran pahalanya diukur dari bobot "tinta yang dicipratkan" seperti statemen Nabi saِw:

يؤتَى بِمدادِطالبِ العلمِ ودَمِ الشهداءِ يومَ القيامةِ فيوضعُ أحدُهمافى كفّةِ الميزانِ والآخرَ فى الكفّةِ الأخرى فلا يَرجِحُ أحدُهماعلى الآخر.

       "Pada hari Kiamat tinta penuntut ilmu dan darah syuhada dihadirkan, lalu salahsatunya diletakkan di neraca timbangan dan yang satunya lagi di neraca yang lain. Ternyata tidak ada salahsatu yang mengungguli yang lain."

      Namun, syarat memperoleh keutamaan tersebut adalah apabila teks "yang digoreskan itu adalah catatan YANG BAIK-BAIK" bukan goresan buruk dan penuh intrik kejahatan.
------------------
GAMBAR:
Kegiatan TC Kaligrafi Kab. Bulungan, Kaltara (8-11/3/2019) di Tanjung Selor menghadapi MTQ  Prov. Kaltara.

Bengkel Kaligrafi Sabah - Didin Sirojuddin



🔹🔸✒🔲📝🔳ي م ج د ق

BENGKEL KALIGRAFI SABAH YANG MENGGUGAH GAIRAH
(DidinSirojuddinAR•Lemka)

إذافسدت السيارة تحمل إلى الورشة لإصلاحها. ولكن فى سابه ماليزياورشة خاصة لتحسين الخط العربى ورسمه. ✒🔹🔸

       BENGKEL KALIGRAFI, ini sungguh sangat menarik. Sebab, BENGKEL (وَرْشَة) di Indonesia artinya "tempat mereparasi atau memperbaiki" kendaraan yang rusak. Seumpama pintu sedan penyok disrempet truk ugal-ugalan, atau motor mogok karena businya kotor atau suaranya rebek menjerit-jerit gara-gara knalpotnya bocor. Semuanya digiring ke BENGKEL untuk direparasi biar kembali kinclong dan tokcer. Ada juga BENGKEL RUHANI untuk nyervice hati yang gundah gulana dan menggosok iman yang mulai awut-awutan. Balik dari bengkel, biasanya pengendara pada tersenyum riang….... 😊😁
       Di Membakut, Sabah, Malaysia yang barusan dilaksanakan untuk ke-5 kalinya adalah BENGKEL SENI KHAT ISLAMI SABAH, semacam "work shop", "kursus kilat" atau "pesantren kilat" kaligrafi untuk semua kalangan, tua-muda sampai budak-budak (bocah) Sekolah Rendah. Bengkel Khat adalah pengiring Pertandingan Khat ASEAN Karya Jadi (diikuti lebih 100 peserta yang dimenangkan 3 khattat Malaysia yaitu Abdul Hadi, Ust. Fadhil, dan Zulfikri & 6 khattat Indonesia yaitu Huda Purnawadi, Mohd. Muallimin, Salwa, Ahmad Haidir, Zainuddin, dan Teguh Prastyo) di samping Pertandingan Khat Spontan oleh peserta se jazirah Borneo. Grand acaranya, MAHRAJAN PERSURATAN DAN KESENIAN ISLAM NUSANTARA SABAH yang berlangsung 8-11/3/2018, juga mempertandingkan lomba menulis puisi yang dimenangkan juara-juara dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
       BENGKEL KHAT SABAH mendemonstrasikan unjuk kebolehan menulis dan melukis oleh ketiga juri pertandingan khat, yaitu ISEP MISBAH (Indonesia) dengan pertunjukan NASKHInya, ABDUL BAKI BIN ABU BAKAR (Malaysia) dengan kebolehan TSULUSnya. Puncaknya diisi praktikal kebolehan melukis di mozek-keramik oleh DIDIN SIROJUDDIN AR (Indonesia).
       Seperti bengkel reparasi motor yang memperbaiki mesinnya yang awut-awutan, Bengkel Khat Sabah mengajarkan cara-cara menulis betul dan indah huruf-huruf tunggal dan cara merakitnya dalam komposisi, proporsi bentuk- bentuknya, sampai hak-hak yang harus dimiliki setiap huruf. Tidak terlewat lho, menunjukkan kesalahan-kesalahan gores yang kadung dilakukan kaligrafer dan bagaimana teknik menyervisnya. Tapi, melukis huruf di media selain kertas seperti MOZEK-KERAMIK, tambah seru saja. "Asyiiiiiiik," komentar bocah di sebelah saya. "Lukisan kaligrafi cukup menjanjikan. Harganya pun mahal, kalau laku," komentar peserta bengkel yang lain.
       Melukis kaligrafi memang asyik. Duuuuh asyiknyaaaaaa. Menggugah gairah untuk teruuuuuus menulis dan melukis saban waktu, enggak berhenti-berhenti. 📝 😆

Garis - Gores - Baris Kehidupan


Mutiara Kaligrafi:
GARIS-GORES-BARIS KEHIDUPAN
(DidinSirojuddinAr•Lemka)

كُلَّماخُطُّ سَطْراضاعَ سطرٌمِنْ عُمْرِى

       "Setiap kali aku mengGORES sebuah GARIS, hilanglah satu BARIS umurku."
           (Sayid Ibrahim, Mesir)

     • Umur terdiri dari garis-garis. Ya, garis-garis kehidupan yang berjejal "pandangan" hidup, "pegangan" hidup, dan "perjuangan" hidup. Satu hentakan nafas adalah garis. Aktivitas makan adalah garis. Satu goresan PENA adalah satu BARIS. Hidup kita terdiri dari garis-GARIS PUTIH dan garis-GARIS HITAM.
        Saat MENULIS atau MELUKIS, elemen garis menjadi bagian dari sebuah karya seni lantaran "semua gambar dan coret-cotetan dimulai dari TARIKAN GARIS". Garis merupakan kumpulan atau deretan titik-titik, atau penghubung yang paling dekat antara dua titik. 〰▪➖💹 Jenis-jenis garis, di antaranya, adalah garis lurus, vertikal, horizontal, diagonal, melengkung, garis berayun, tebal-tipis, mendekat-menjauh, dan garis putus-putus. 🔸🔹✒
       Ah, betapa menariknya kala Nabi SAW juga bicara, menggambarkan unik-unik GARIS ini:

        خط لنارسول الله صلى الله عليه وسلم خطّا ثم قال: "هذاسبيل الله" ثم خطّ خطوطاعن يمينه وعن شماله ثم قال: "هذه سُبل" قال يزيد "متفرقة على كل سبيل منها شيطان يدعوإليه" ثم قرأ: "إنّ هذا صراطي مستقيمافاتبعوه ولا تتبعواالسبل فتفرق بكم عن سبيله". (رواه أحمدعن ابن مسعود)

       "Rasulullah SAW mengGORES sebuah GARIS lurus bagi kami, lantas bersabda: "Ini adalah JALAN Allah," kemudian beliau mengGORES garis-GARIS lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda: "Ini adalah jalan-jalan (yang berbeda-beda). Pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepada jalan itu." Kemudian beliau membaca: "Inna hadza....." ("Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya"/QS Al-An'am/6: 153).
(HR Ahmad dari Ibnu Mas'ud)

        Kita telah berani memilih hidup dengan segala resikonya. Sampai garis-garisnya terpupus bergantikan garis-garis berikutnya. Maka, garis pilihan seharusnyalah GARIS PUTIH yang mulus, saleh, dan menyelamatkan, sebagaimana goresan yang baik akan membawa kebaikan dan goresan buruk berakibat buruk pula.

خ ط --------- 〰▪✒🔸😆••

• GAMBAR AKTIVITA:
Suasana Pelatihan Dewan Hakim MTQ/STQ Kab. Bangka Selatan 2019, (14-16/3/2019), di Grand Marina Hotel, Toboali, Bangsel. Juri2 KALIGRAFI dilatih utk menambah wawasan & akurasi dala m penilaian.

Sabtu, 03 Februari 2018

IBNU MUQLAH

IBNU MUQLAH.

Kaligrafer yang sangat berjasa, dari hasil upaya tokoh inilah tulisan Kitab Suci Al Qur'an menjadi indah dan enak dibaca.

    Ibnu Muqlah adalah Ali al-Sadr Muhammmad ibn al-Hasan ibn Abdillahibn Muqlah , yang lebih dikenal dengan Abu Ali atau Ibnu Muqlah , lahir tahun 887 M , meninggal pada 940 M, dan dimakamkan di pemakaman kerajaan ,setelah tiga kali di pindahkan. Ibnu Muqlah artinya "anaksi biji mata " , alias  anak kesayangan .IIa adalah wazir ( menteri) unttuk tiga Khalifah Abbasiyyah, yakni Al-Muqtadir, Al-Qahir dan Al-Radhi  . Meninnggal pada masa al-Radhi ,di penjara ( karena fitnah masalah keuangan negara ) setelah lidah dan tangannnya dipotong.
          Ibnu Muqlah memulai karirnya sebagai pegawai pemungut pajak di provinsi Persia.yang membawanya                       sukses untuk menduduki kursi tertinggi di istana Baghdad .Ia berkali-kali masuk penjara, sampai suatu saat ia harus membayar tebusan satu juta dirham. Hukuman tidak berhenti disini saja ,karena Ia harus mempertaruhkan tangan kanan dan kirinya .terakhir lidahnya. meski demikian,sebagai kaligrafer Ia tidak pernah berhenti menulis,walaupun hanya dengan ujung tangan kanannya yang telah buntung.
          Ibnu Muqlah mendapat bimbingan kaligrafi dari Al-Ahwal  al-Muharrir . karena kejeniusannya Ia dikenal sebagai " nabi"nya para kaligrafer atau imam al-Khatthathin (pemimpin para kaligrafer ) .
          Keberhasilan ibnu Muqlah adalah mengangkat gaya Naskhi menjadi gaya yang paling populer di pakai,   setelah abad sebelumnya didominasi Kufi. Gaya lain yang ditekuninya adalah Tsuluts , yang nantinya banyak berpengaruh pada karya Ibnu  Bawwab. sumbangan Muqlah dalam kaligrafi bukan pada penemuan gaya baru tulisan, akan tetapi pada penerapan kaidah--kaidah yang sistematis untuk khat Naskhi , yang berpangkal pada alif.
          sistem Ibnu Muqlah berpangkal pada tiga unsur kesatuan baku ,yakni :
(1). titik  (yang dibuat dari tarikan diagonal pena)
(2). huruf Alif vertikal.
(3). lingkaran
         prinsip-prinsip geometrical  ini mendobrak cara penulisan Arab sebelumnya yang cenderung Nisbi. Metode penulisan baru ini.di sebut al-Khat al-Manshubi  ( kaligrafi yang "terstandar") .meski Kaidah-kaidah itu tidak terpakai sekaku awal perintisan Ibnu Muqlah .
        Perkembangan kaligrafi selanjutnya banyak dipengaruhi oleh  kepiawaiannya dalam memperindah tulisan , namun sangat di sayangkan tak satupun karyanya terpelihara hingga  kini .Wallahu A'lam.











Kamis, 11 Januari 2018

WISHAM SHAWKAT - Kaligrafer Beragama Kristen

WISHAM SHAWKAT

Lihat Karya Beliau :  http://aankaligrafi.blogspot.co.id/2018/01/karya-wisham-shawkat.html

Lahir di Basra pada tahun 1974, Wissam Shawkat itu bentuk empat huruf dari alfabet bahasa Arab yang ditulis di papan tulis sekolah yang mulai dia pada sebuah perjalanan yang telah membentuk baik di tahun-tahun awal dan dewasa. Dia mengenang menemukan kedamaian dan kesabaran menulis dan mengulangi kaligrafi surat pada ubin berdebu tempat penampungan darurat selama pengeboman udara berat selama Perang Iran-Irak dan, didorong oleh orangtua yang mendukung, ia menjadi guru sendiri.

Nya musim panas remaja dihabiskan huruf untuk sebuah toko tanda lokal sebelum ia mulai belajar untuk gelar dalam teknik sipil di Universitas Basra, lulus pada tahun 1996. Kehidupan sebagai seorang insinyur sipil, meskipun, tidak Shawkat di takdir dan titik mana afinitas nya untuk letterforms akan menunggu tidak lagi cepat datang.

Dalam beberapa tahun terakhir, Shawkat telah menjadi dikenal untuk gaya kaligrafi yang baru, Al Wissam, yang referensi sejumlah script tradisional yang termasuk Sunbuli, Jali Diwani, Timur Kufic, dan Thuluth, membawa mereka bersama-sama dengan desain modern.

Telah dikatakan bahwa Wissam Shawkat adalah aturan-breaker. Individu yang sederhana, label ini dimuat bukanlah sesuatu yang dia akan bebas berlaku dirinya sendiri, tetapi, Selain itu, ianya mustahil untuk menyangkal bahwa tantangan tema yang pernah hadir. Kita lihat bahkan dalam cara dia pergi tentang membuat pekerjaan baru-menggunakan alat tradisional dan bahan-bahan untuk menghasilkan estetika kontemporer. Ada tujuan dalam penjajaran membebaskan menggunakan kertas reed pena dan tinta tradisional untuk menciptakan karya yang meminta kita untuk berpikir lagi tentang apa kaligrafi Arab dan dapat – ciri khas pusat Calligraformic dan sesuatu yang duduk nyaman dengan artis seperti Shawkat, rute yang kurang preskriptif ke kaligrafi Arab telah selalu meninggalkan dia di suatu tempat di pinggiran tradisi.
Wissam SHawkat_B.jpg
IMG_9780_Fotor.jpg
Pernyataan


Aku kaligrafi berubah seniman konseptual termotivasi. Bagaimana seseorang self - dilatih dalam yang paling kaku, berbasis aturan istirahat sedang keluar ke abstraksi? Sekarang lebih dari 30 tahun dalam praktek kaligrafi saya, saya patuh mempelajari skrip tradisional, komposisi, dan bentuk sampai akhirnya aku merasa memenuhi syarat untuk menilai prinsip-prinsip yang dapat diganti dan tdk dijilid, dan yang akan tetap.

Sebelum kaligrafi dikanonisasi sebagai bentuk sekali dianggap revolusioner dan eksperimental. Praktek saya adalah sebuah upaya untuk mengambil kembali itu disorienting tempat yang bergoyang-goyang di tepi dari apa yang dikenal dan apa yang asing.

Saya tertarik dengan grafis nilai huruf Arab jauh melampaui makna harfiah mereka. Sebagai contoh, tajam ekor 'memiliki' dapat memotong dari tubuh melengkung huruf dan serial dengan pena atau sikat pada sudut yang dikenali.

Meskipun ia mungkin awalnya datang kepada saya oleh merenungkan surat, bentuk akhir adalah bentuk monumental yang tidak eksklusif berlabuh di dunia Arab. Saya bergerak sebanyak oleh Master Turki lama karena saya oleh the Bauhaus, kolase geometris abstraksi, Futurisme, Kubisme dan Cecil Touchon.

Dimulai dengan ini tubuh yang baru bekerja, aku telah memilih untuk merujuk kepada saya gaya dan pendekatan sebagai Calligraform. Ini merujuk kepada penekanan pada bentuk huruf, dalam dan luar ruang dan grafis kualitas, diselidiki bersama-sama dengan bentuk yang tepat dari karakter kaligrafi.

Sabtu, 06 Januari 2018

BIOGRAFI BIN QULANDAR

Bin Qulandar, seorang seniman yang terkenal. Qulander semula adalah seorang desainer grafis dan miniatur artis namun kemudian ia terkenal secara global sebagai kaligrafi
Biografi
Qulandar bin, putra Sufi bijak, lahir 7 Maret 1980 milik Lahore, Pakistan, adalah kaligrafi terkemuka generasi muncul sebagai pengaruh dalam genre seni Islam. Melalui karunia diberikan kreativitas oleh Allah SWT dan kemampuannya dibedakan, ia tidak hanya membangkitkan rasa estetika pendengarnya tetapi juga gratifies keyakinan spiritual mereka juga. Karya kreatif adalah tonggak sejarah dalam genre kaligrafi yang dianggap sebagai aspek penting dari seni Islam.
Penghargaan
Beasiswa keunggulan Nasional College of Arts, Lahore (2008)
Merit hadiah di pameran kelompok yang diselenggarakan di National College of Arts, Lahore (2008)
Seniman muda khas hadiah di pameran kaligrafi internasional, Lahore (2008)
Merit hadiah Ghazali pendidikan Trust 2013

BIOGRAFI BAPAK KALIGRAFI INDONESIA - DIDIN SIROJUDDIN AR

 

 

 

Didin Sirojuddin AR (59) adalah maestro seni kaligrafi Arab di Indonesia. Melalui lembaga kursus dan pesantren khusus kaligrafi yang dirintis sejak 30 tahun silam, kaligrafer itu menularkan seni menulis khat (tulisan) indah Al Quran kepada ribuan murid. Bagi dia, inilah jalan menebarkan wajah Islam yang ramah dan indah.

OLEH ILHAM KHOIRI
Di rumahnya yang bersahaja di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, suatu sore akhir Juni lalu, Didin—begitu sapaan akrabnya—memperagakan penulisan seni kaligrafi Arab atau khat. Mengenakan baju koko putih, kopiah hitam, dan sarung, ia duduk santai di belakang kursi kecil di teras.
Ia ambil pena khusus dari kayu dan dicelupkannya ke dalam tinta hitam. Tangannya lantas menari di atas kertas putih. Saat menulis, wajahnya tampak semringah.
Satu per satu, ia torehkan huruf ba-sin-mim membentuk kata bismillah. Aksara itu meliuk-liuk dengan ujung mim meruncing panjang ke bawah. Karakter memutar itu juga terlihat pada deretan kata-kata berikutnya sampai tersusun kalimat lengkap Basmallah (dengan menyebut nama Allah).
”Ini khat Dewani. Dulu banyak dipakai di dewan-dewan atau kantor-kantor pada masa kerajaan Turki Usmani,” katanya.
Sore itu adalah pekan akhir Ramadhan. Didin menggelar buka puasa bersama untuk para muridnya. Hadir puluhan santri, pengajar, pelatih, dan peserta lomba kaligrafi pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di sejumlah daerah. Mereka adalah sebagian dari ribuan murid Didin.
Didin adalah maestro seni kaligrafi Arab di Indonesia yang tekun menularkan ilmunya sejak 30 tahun silam. Tahun 1985, ia mendirikan Lembaga Kaligrafi Al Quran (Lemka) di Jakarta. Ini lembaga kursus yang mengajarkan peserta untuk menguasai beragam gaya kaligrafi, seperti Dewani, Dewani Jaliy, Naskhi, Tsuluts, Farisi, Riq’ah, dan Kufi.
”Waktu itu, saya langsung terangkan semua gaya kepada peserta. Tetapi, mereka malah pusing. Kursusnya bubar,” kenangnya. Mendapat masukan dari sana-sini, ia menyusun metode yang lebih pas, yaitu pengajaran gaya-gaya pokok kaligrafi secara bertahap.
Kini, Lemka telah menggelar 62 gelombang kursus, masing-masing diikuti sekitar 100 peserta. Kursus saat ini bertempat di Masjid Assalam di samping rumah Didin.
Ingin mengembangkan pendidikan lebih intensif, pada 1998 kaligrafer itu mendirikan Pesantren Kaligrafi Al Quran di Karamat, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Di situ, para santri tak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga digembleng untuk mendalami beragam gaya khat Arab.
Namun, Didin menghadapi tantangan lebih berat, terutama pendanaan. ”Mula-mula saya curahkan uang sendiri, selain sumbangan dari donatur, iuran, dan dukungan alumni Lemka. Cari santri juga tak mudah, awalnya hanya empat orang,” katanya.
Seiring prestasi para santri di ajang lomba kaligrafi MTQ, pamor pesantren naik. Jumlah santri terus bertambah dan pendanaan kian lancar. Kini, lembaga ini memiliki fasilitas cukup lengkap, meliputi asrama, masjid, gedung administrasi, koperasi, warung, perpustakaan, rumah guru, studio melukis, dan lapangan futsal.

foto: ilham khoiri
foto: ilham khoiri
Corat-coret
Ayah Didin, Abdul Rahman, adalah seorang mantri kesehatan yang kemudian menjadi Kepala Desa Karang Tawang di Kabupaten Kuningan. Tak mengikuti jejak sang ayah, Didin kecil malah kepincut melukis. Ia gemar mencoreti dinding rumah dengan arang.
Hobi itu menjadi-jadi saat Didin mengenal komik. Ia sibuk meniru gambar-gambar itu dengan peralatan seadanya. Namun, sang ayah ingin anaknya mendalami ilmu agama. Dikirimlah remaja itu ke Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur.
Pesantren tak memupus hasrat Didin melukis. Di sela-sela mendalami ilmu-ilmu agama Islam, ia melukis. Bahkan, bersama beberapa santri, ia dirikan Sanggar Pelukis Darussalam (Sakisda). Di sini, ia mulai tertarik mempelajari seni kaligrafi Arab, yang kebetulan termasuk pelajaran wajib. ”Saat itu buku-bukunya masih terbatas.”
Lulus dari Gontor pada 1975, Didin mengincar Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta. Sayang, sang ayah berkeberatan. Pemuda itu lantas kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sambil kuliah, Didin berguru kepada penulis kaligrafi buku profesional KH M Abdul Razaq Muhili dan kaligrafer lulusan penulis Al Quran Pusaka Indonesia, HM Salim Fachry. ”Saya datang, banyak bertanya, meminta bahan- bahan untuk ditiru.”
Setahun setelah kelar kuliah, pada 1983 Didin ditugaskan mengajar kaligrafi di IAIN. Ini tugas berat karena referensinya masih langka. Maka, dosen muda itu pun menyusun naskah mengajar. Naskah itu lantas disempurnakan menjadi buku, Seni Kaligrafi Islam (terbit 1985).
Karya itu diikuti buku-buku lain. Ada 40-an buku seni kaligrafi karya Didin, mulai dari sejarah, diktat pelatihan menulis, contoh-contoh tulisan, kumpulan artikel, hingga terjemahan buku master kaligrafi Timur Tengah. Semua itu menjadi referensi bagi para peminat seni kaligrafi. Pengalaman nyambi menjadi wartawan majalah Panji Masyarakat membuat seniman ini lancar menulis.
img_5331
Foto: KOMPAS/ILHAM KHOIRI
Islam yang ramah
Sembari mengajar dan menulis buku, Didin terus mengasah kemampuan menggoreskan khat. Pengetahuan dan kepiawaian membuat ia dipercaya sebagai Dewan Hakim Seni Kaligrafi dalam MTQ Nasional di Padang, Sumatera Barat, pada 1983. Pengakuan lebih luas diperoleh saat dia menjadi Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN pada 1987. Sepuluh tahun berselang, kaligrafer itu bahkan didaulat menjadi juri sayembara bergengsi itu.
Pada 1993, Didin memenuhi permintaan sastrawan HB Jassin untuk menuliskan Al Quran Berwajah Puisi. Ayat-ayat Al Quran ditulis secara lengkap dan utuh, tetapi dengan tata letak mirip susunan puisi. Proyek seni ini memicu perdebatan luas, dan kaligrafer itu kian masyhur.
Nama Didin juga beredar di mancanegara. Tahun 2001, ia mewakili Indonesia dalam The 9th International Exhibition of The Holy Qur’an di Teheran, Iran. Tahun 2009, dia mengisi pameran dan diskusi seni kaligrafi Arab di Islamabad dan Lahore, Pakistan.
Sebenarnya apa yang dikejar Didin selama pengembaraannya dalam seni kaligrafi? ”Kaligrafi itu the art of Islamic art, seninya seni Islam. Seni ini punya nilai keindahan dan keluhuran karena langsung terkait penulisan huruf-huruf Al Quran, sumber ajaran Islam.”
Lebih dari itu, melalui seni khat, Islam tampil dengan wajah yang lebih ramah. Keindahan kaligrafi menerbitkan kesegaran di tengah citra Islam yang belakangan kerap dikaitkan dengan kekerasan, radikalisme, bahkan terorisme. ”Seni ini juga bagian dari dakwah Islam, jihad. Bukan dengan ceramah atau perang, melainkan dengan tulisan indah,” katanya.
Lihat Video Terkait ”Didin Sirojuddin AR: Maestro Seni Kaligrafi” di kompasprint.com/vod/didinsirojuddin
DIDIN SIROJUDDIN AR

♦ Lahir: Kuningan, Jawa Barat, 15 Juli 1957

♦ Istri: Aah Marfu'ah (51)

♦ Anak: Iwan Ridwan Saidi (27)

♦ Pendidikan:

- Pondok Modern Gontor (1969-1975)

- Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta, S-1 (1976-1982) dan S-2 (1997-1999)

- Ilmu Tafsir, Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta, S-3, (2012-2015)

♦ Pekerjaan:

- Pengajar di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1983-sekarang)

♦ Kegiatan: - Mendirikan Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di Jakarta (1985) - Mendirikan Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka di Sukabumi (1998)

♦ Penghargaan: - Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN di Brunei Darussalam (1987)

Sumber:
KOMPAS Sabtu, 30-07-2016. Halaman: 16
http://print.kompas.com/baca/gaya-hidup/sosok/2016/07/30/Maestro-Seni-Kaligrafi

BIOGRAFI MUHAMMAD ASSIRY





I.                   DATA PRIBADI
Nama                                  :  Muhammad Assiry, S.Pd.I.
Tempat dan tanggal lahir    :  Kudus, 16 Agustus 1980
Alamat                                :  Ds. Undaan Lor RT 03 RW 01 Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus
Jabatan                                             :  Pendiri dan Pimpinan Pesantren Seni Kaligrafi Al-Quran PSKQ Kudus Jawa Tengah
Agama                                :  Islam

II.                PENDIDIKAN FORMAL
1.      SDN 02 Undaan tahun 1991
2.      SMPN 01 Undaan tahun 1994
3.      MAN 02 Kudus  tahun 1997
4.      S-1 Jurusan Tarbiyah atau Pendidikan tahun 2012 di IAIN Sunan Kudus

III.             PENDIDIKAN NON FORMAL
1.      Pesantren Al-Quran di IIQ Wonosobo tahun 1998
2.      Pesantren Sekolah Diniyyah Kradenan tahun 1998 sampai 2000
3.      Pesantren Tahfidz KH.Kodir Janggalan Kudus tahun 1999
4.      Sanggar Kaligrafi An-Nur, Pimpinan KH. Nur Aufa Sidiq Al-Khathath Janggalan Kudus  tahun 1998-2000
5.      Pesantren Kaligrafi LEMKA Sukabumi Jawa Barat tahun 2000-2003
6.      Pesantren Tilawatil Quran Al-Fasyni Warungnangka Bogor Jawa Barat tahun 2004
7.      Sekolah Lukis dan 3D di Galeri Wadah Art tahun 2005

IV.             JENJANG KARIR :
1.      Pendiri dan Pimpinan Pesantren Seni Kaligrafi Al-Qur’an, Kudus, Jawa Tengah tahun 2007 - sekarang
2.      Owner UD. Assiry Art yang bergerak di bidang kaligrafi masjid
3.      Owner Arjuna Rest and Assiry Gallery yang bergerak di bidang kuliner
4.      Owner Clothing and T-Shirt "Gombal Mukiyo"
5.      Pembina Kaligrafi Kader Kalimantan Tengah 2009  
6.      Pembina Kaligrafi Kader Jawa Tengah 2004-Sekarang
7.      Pembina Kaligrafi Kader Bintan Kepulauan Riau 2008
8.      Pembina Kaligrafi Kader Kalimantan Timur 2008
9.      Pembina kaligrafi Kader UNDIP Semarang 2008
10.  Pembina Kaligrafi Kader Jawa Barat 2008-2009
11.  Pembina Kaligrafi Kader Jakarta 2009-2010
12.  Pembina kaligrafi Kader STAIN 2009-Sekarang
13.  Pembina Kaligrafi Kader Jawa Timur 2009
14.  Dewan Hakim Lomba Kaligrafi Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2006-2010
15.  Dewan Hakim Lomba Kaligrafi anak-anak Kab. Kudus, 2010
16.  Pembina Kaligrafi Kader Jambi 2008 - sekarang
17.  Pembina kaligrafi Kader Aceh 2009 - sekarang
18.  Pembina kaligrafi Kader Banten 2011-2012
19.  Pengajar Kaligrafi di Pesantren LEMKA Sukabumi tahun 2001-2006

V.                PRESTASI
Penghargaan Yang Pernah Didapat :
  1. Juara I, Kaligrafi Naskah Tingkat Wilayah Karisidenan Pati, 1999
  2. Juara I, Kaligrafi Naskah Tingkat Prov. Jawa Tengah, Di Demak, 1999
  3. Juara II, Kaligrafi Dekorasi Putra MTQ Tingkat Provinsi Jawa Barat, Sukabumi, 2001
  4. Juara I, Kaligrafi Naskah Putra MTQ Tingkat Kotib Cimahi, 2001
  5. Juara I, Kaligrafi Naskah Tingkat Kota Sukabumi, 2001
  6. Juara I, Kaligrafi Naskah MTQ XXXIV Tingkat Kab. Tangerang, 2002
  7. Juara I, Kaligrafi Naskah Putra Sewilah Wilayah II Bogor, Pondok Modern Assalam, 2002
  8. Juara II, Kaligrafi Naskah Tingkat Prov. Jawa Barat, Cirebon, 2002
  9. Penghargaan Pembuatan Patung Religi Muri Musium Rekor Indonesia (Setinggi 15 M),  2002
  10. Juara I, Kaligrafi Naskah Tingkat Prov. Banten, Di Tangerang, 2002
  11. Juara I, Kaligrafi Naskah Putra Tingkat Kota Jakarta, 2002
  12. Juara I, Kaligrafi Mushaf Kota Sukabumi, 2002
  13. Juara I, Kaligrafi Kategori A Khot Naskhi Brunei Darussalam, 2002
  14. Juara II, Kaligrafi Kategori C Khot Diwani, Brunei Darussalam, 2002
  15. Juara I, Kaligrafi Naskah Putra Kab. Tasik Malaya, Kec. Jamanis, 2003
  16. Juara I, Kaligrafi Dekorasi MTQ Ke 35 Tingkat Kota Bogor, 2003
  17. Juara I, Kaligrafi Naskah Putra Tingkat Nasional, Palangkaraya Kalimantan Tengah, 2003
  18. Juara I, Kaligrafi Dekorasi MTQ Kab. Bogor, 2004
  19. Juara III, Kaligrafi Dekorasi Tingkat Provinsi Jawa Barat Kota Bogor, 2004
  20. Juara I, Kaligrafi Dekorasi Tingkat Prov. Jawa Tengah, 2004
  21. Juara I, Kaligrafi Dekorasi Putra MTQ Ke IV Tingkat Kab. Tebo, 2004
  22. Juara I, Kaligrafi Kategori B Khot Tsuluts, Brunei Darussalam, 2006
  23. Juara I, Kaligrafi Kategori C Khot Diwani, Brunei Darussalam, 2006
  24. Juara I, Kaligrafi Kategori D Khot Riq’ah, Brunei Darussalam, 2006
  25. Juara II, Kaligrafi Dekorasi MTQ Ke VII Tingkat Kota Bekasi, 2006
  26. Juara I, Kaligrafi Dekorasi Tingkat Prov. Jawa Barat, Di Cirebon, 2006
  27. Juara I, Kaligrafi Dekorasi Tingkat Kota Sukabumi, 2006
  28. Juara Harapan, Kaligrafi Dekorasi Tingkat Nasioanal Kendari, Sulawesi Utara, 2006
  29. Juara II, Kaligrafi Dekorasi Putra Ke II, Depok, 2006
  30. Juara I, Kaligrafi Dekorasi MTQ Ke XXXVIII Tingkat Kab. Tangerang, 2006
  31. Juara I, Kaligrafi Lukis Kontemporer Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Peringatan Hari Jadi, Kota Kudus ke 458, 23-September-2007
  32. Juara Harapan, Kaligrafi Mushaf Tingkat Nasioanal, Banten, 2008
  33. Juara I, Kaligrafi Mushaf Putra Tingkat Prov. Jawa Tengah, 2008
  34. Juara I, Kaligrafi Dekorasi Putra Kota Sukabumi, 2008
  35. Juara II, Kaligrafi Dekorasi Tingkat Kota Sukabumi, 2009
  36. Juara I, Kaligrafi Dekorasi Tingkat Kab. Berau, Kalimantan Timur, 2010
  37. Juara I, Kaligrafi Dekorasi MTQ Ke XI Tingkat Kota Depok, 2010
  38. Juara I, Kaligrafi Dekorasi Putra MTQ 41, Kab. Serang, 2010
  39. Juara I, Kaligrafi Dekorasi MTQ 42 Kab. Serang, 2011
  40. Juara I, Kaligrafi Dekorasi Putra MTQ Kab. Sukabumi, 2001
  41. Juara II, Kaligrafi Dekorasi MTQ Ke VIX Tingkat Prov. Banten, 2012
  42. Juara II, Kaligrafi Dekorasi Putra Tingkat Prov. Banten, Tangerang, Selatan, 2012